Skip to content

Memori Kolektif Bangsa

24 September 2009

Presiden SBY dan Ibu Negara di Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di Kompleks Arsip Nasional, Jakarta Selatan, Senin (31 / 8). FOTO: DUDI ANUNG

Presiden SBY dan Ibu Negara di Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di Kompleks Arsip Nasional, Jakarta Selatan, Senin (31 / 8). FOTO: DUDI ANUNG

DIORAMA SEJARAH PERJALANAN BANGSA

Bagi orang awam, tiap kali mendengar kata arsip, maka yang terbayang adalah tumpukan kertas yang disimpan di lemari atau rak, meski sejatinya tidak demikian. Bagi negara, lembaga, kegiatan, maupun arsip itu sendiri, sesungguhnya arsip memiliki makna yang lebih dalam.

UNTUK kehidupan berbangsa dan bernegara, arsip jelas sangat penting mengingat ia adalah penyaksi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara itu. Maka para pengelola arsip, yang disebut dengan arsiparis, merupakan profesi yang mulia. Oleh karena itu, dalam dimensi dan pengertiannya yang luas, Arsip Nasional Republik Indonesia merupakan memori kolektif sebuah bangsa.

‘’Dengan demikian ketika bangsa dan negara itu bergerak ke depan menuju masa depan yang tidak terbatas, maka apa yang dilakukan bangsa itu dalam lintasan perjalanan kehidupannya semuanya terarsipkan dengan baik,’’ kata Presiden SBY dalam sambutan saat meresmikan Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di Kompleks Arsip Nasional Republik Indonesia, Jalan Ampera Raya, Cilandak Timur, Jaksel, Senin (31/8) siang.

Negara-negara maju di luar negeri pandai memelihara, menyimpan, dan menggunakan arsip-arsip kesejarahannya dan melakukan tata kelola kearsipan yang baik.

‘’Kedua, arsip merupakan identitas, jati diri dari bangsa itu sepanjang proses peradaban dan sejarah perjalanannya. Ketiga, arsip merupakan warisan yang sangat penting yang harus terus dipelihara. Kemudian di era modern, arsip juga merupakan bagian dari akuntabilitas, pertanggungjawaban bagaimana sebuah bangsa dan pemerintah menjalankan tugas-tugas penyelenggaraan negara dan pemerintahan dengan benar,’’ ujar Presiden SBY.

‘’Betapa luas pengertian dari arsip dan upaya untuk menjaga kelestarian arsip nasional seperti itu. Saya memaknai arsip dalam dimensi dan pengertiannya yang luas sebagai living memory dari sebuah bangsa,’’ katanya menambahkan.

Presiden SBY juga mengajak masyarakat memahami manfaat sesungguhnya dari memelihara dan mendayagunakan arsip tersebut. ‘’Pertama, kita ingin kebenaran sejarah selalu tegak. Kedua, kita ingin baik masa kini maupun masa depan, studi, kajian, penelitian, penulisan baik itu sejarah maupun untuk kepentingan akademis yang lainnya itu merujuk pada sumber-sumber yang benar. Ketiga, kalau bisa kita kelola dengan baik, itu bisa menjadi bagian dari wisata sejarah, wisata warisan. Pendek kata, semua bisa kita gunakan untuk kepentingan masa kini dan masa mendatang,’’ tutur Presiden SBY.

Ke depannya Presiden mengajak para penyelenggara negara, jajaran pemerintahan, ahli sejarah, budayawan, dan seluruh rakyat Indonesia untuk membangun suatu kesadaran, budaya untuk bisa memelihara warisan, dokumen, dan arsip perjalanan bangsa.

‘’Mari kesadaran ini juga kita bawa di arena pendidikan. Kepada anak-anak yang tengah menempuh pendidikan, bangun nilai, cara pandang, dan kesadaran sebagai bangsa besar yang menghargai sejarahnya dan pandai memelihara semua dokumen dan arsip. Mari kita lakukan langkah-langkah mekanisme sistem, pemeliharaan dan penggunaan arsip dokumen sejarah yang benar. Gunakan teknologi yang tersedia. Dengan demikian daya tahan dan keawetan dapat kita jaga,’’ kata Presiden menjelaskan.

Bagi yang masih menyimpan secara pribadi arsip, dokumen yang berkaitan dengan sejarah yang terjadi di negeri ini, Presiden berharap dapat diserahkan kepada negara. ‘’Copy-nya tentu bisa dimiliki, tapi tolong sesuai dengan ketentuan undang-undang, aslinya diserahkan kepada negara,’’ ucap Presiden menegaskan.

Kunjungan Presiden SBY ke Arsip Nasional Republik Indonesia ini kiranya bisa memacu semangat pengelola sekaligus menyadarkan bangsa akan arti penting arsip. Baru kali Arsip Nasional dikunjungi seorang Presiden RI setelah 64 tahun merdeka.

Selain meresmikan Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa, dalam kesempatan kunjungan ini Presiden juga mencanangkan Program Arsip Masuk Desa.

Menurut Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia, Djoko Utomo, Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa dibangun pada gedung seluas 750 meter persegi dan dibagi dalam delapan hall.

‘’Sebelum pintu masuk Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa terukir wajah enam Presiden Republik Indonesia, yaitu Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden B.J. Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri. dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Semua Presiden tersenyum dan kami beri judul Senyummu Indonesiaku,’’ terang Djoko.

Dalam pidatonya, Menko Kesra Aburizal Bakrie dalam sambutannya mengatakan, Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa merupakan dokumentasi seabad kebangkitan bangsa yang periodesasinya diawali dengan masa kejayaan nusantara, masa kebangkitan, masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, menjaga keutuhan bangsa dan mengisi kemerdekaan, hingga masa reformasi.

‘’Wahana ini menggambarkan proses dinamika bangsa dari Sabang hingga Merauke, khususnya dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, dan sosial budaya yang mengarah pada integrasi nasional dalam kerangka NKRI,’’ ujar Aburizal.

Pada acara ini Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara menyerahkan Penghargaan Arsiparis Teladan Tingkat Nasional Tahun 2009 dengan penerima, antara lain, Tri Maryanto A. Alimi dari Provinsi Jawa Tengah dan Reny Maryati dari Departemen Luar Negeri.

Sedangkan dalam program pencanangan Program Arsip Masuk Desa, Presiden SBY menyerahkan bantuan sarana kearsipan berupa seperangkat komputer dan sistemnya secara simbolis kepada Kepala Desa Bung Ceukok Aceh Besar, Ridwansyah, serta Kepala Desa Losari Purbalingga, Suwadno.

Nanang R. Parlindungan

Sumber : Nasional Edisi 5 / September 2009

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: