Skip to content

Percepat Inventarisasi Karya Anak Bangsa

24 September 2009

Presiden SBY menerima Jenderal TNI (Purn) Try Soetrisno di Kantor Kepresidenan, Jumat (11 / 9). FOTO: DUDI ANUNG

Presiden SBY menerima Jenderal TNI (Purn) Try Soetrisno di Kantor Kepresidenan, Jumat (11 / 9). FOTO: DUDI ANUNG

Jumat(11/9), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Jenderal TNI (Purn) Try Soetrisno selaku Ketua Eminent Person Group (EPG) Indonesia, di Kantor Presiden. Kedatangan Try untuk melaporkan hasil kunjungannya ke Malaysia pada 8-9 September 2009 untuk bertemu EPG Malaysia.

EPG merupakan kelompok yang dibentuk tahun lalu oleh Indonesia dan Malaysia untuk membantu pemerintah memajukan hubungan kedua negara. Try mengatakan, kunjungan ke Malaysia adalah untuk bertemu partner EPG di sana menanyakan perkembangan rekomendasi yang sama-sama telah dibuat dan telah diberikan kepada kedua kepala negara masing-masing.

Berbagai hal yang bicarakan, mulai beasiswa pendidikan kedua negara dan program homestay agar mahasiswa Indonesia dan Malaysia sehari-hari bisa belajar sekaligus mengenal budaya, bahasa, dan adat istiadat masing-masing.

Soal seni budaya yang akhir-akhir ini mencuat –seperti Tari Pendet– Try mengatakan sebenarnya kesalahpahaman seperti itu tidak perlu terjadi jika jauh hari kedua pengelola pariwisata telah dipayungi kerja sama yang erat. ‘’Karena budaya atau seni yang sudah masuk pada ranah publik itu bisa digunakan bersama. Hanya memang perlu diatur dan lebih rinci lagi, siapa yang membuat lebih dulu dan apa hak-hak penciptanya dan sebagainya,’’ ujar Try menjelaskan.

‘’Budaya yang sudah go public itu tidak bisa dituntut. Misalnya lagu-lagu Michael Jackson dibawakan di Indonesia, apa dituntut? Tarian dansa dari Eropa dibawakan di sini, apa dituntut? Justru kita harus berbangga kalau budaya dan seni kita diterima di luar Indonesia. Namun yang penting adalah aspek ekonomi yang harus dibicarakan. Inilah yang kita usulkan,’’ katanya menambahkan seperti dikutip situs resmi Kepresidenan RI.

Pentingnya Inventarisasi

Sebelumnya dalam berbagai kesempatan, Presiden SBY menegaskan Tari Pendet sudah diakui dunia sebagai milik Indonesia, sehingga dia pun heran bila kemudian dikabarkan diklaim pihak-pihak di Malaysia.

Presiden menyatakan sudah menerima laporan dan penjelasan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata serta Menteri Luar Negeri, berkaitan dengan isu Tari Pendet yang menjadi bagian dari iklan wisata di Malaysia itu.

‘’Oleh karena itu, untuk pertama kali sejak lima tahun yang lalu, saya memberikan pernyataan berkaitan dengan isu semacam Tari Pendet, tarian Bali, tarian Indonesia yang menjadi bagian dari iklan kepariwisataan di Malaysia,’’ ujar Presiden dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Selasa (25/8).

Wajar apabila Indonesia protes, rakyat pun berang. Namun semua itu harus dilakukan melalui saluran yang semestinya. Presiden pun tidak membenarkan adanya tindakan anarkistis, seperti razia dan sweeping terhadap warga Malaysia di berbagai daerah di Indonesia,

Namun di balik peristiwa klaim Tari Pendet dan beberapa hasil seni budaya lainnya, ada hikmah penting yang bisa dipelajari. Yaitu arti penting inventarisasi. Oleh karena itu, Presiden SBY mengatakan kepada publik serta telah meminta para menteri terkait dan jajaran pemerintah daerah untuk segera melakukan percepatan inventarisasi karya anak bangsa untuk ditentukan hak ciptanya.

Presiden lalu menyebut wayang sebagai contoh yang telah diterima UNESCO sebagai global heritage di Indonesia pada 2003. Lalu pada 2005 keris juga sudah diakui UNESCO sebagai warisan yang sama dengan wayang tadi. Saat Presiden menggelar konferensi pers itu, dia mengatakan sedang menunggu pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai karya Indonesia. Namun beberapa hari sesudahnya keluarlah keputusan UNESCO yang memastikan batik sebagai global heritage di Indonesia (baca: Lanjutkan Mahakarya Adiluhung Pendahulu Kita)

‘’Setelah itu kita masih terus mendorong berikutnya lagi angklung dan tentu kita akan terus memperjuangkan pada tingkat global dalam hal ini ke UNESCO karya budaya Indonesia yang patut menjadi heritage dan diakui dunia,’’ kata Presiden.

Menurut Presiden, dalam kehidupan di era globalisasi, negara-negara maju, negara-negara Barat, sangat peduli pada hak cipta, hak kekayaan intelektual karena itu merupakan bagian dari ekonomi di negara bersangkutan.

‘’Oleh karena itu Indonesia tidak boleh tertinggal dan harus terus kita lakukan langkah-langkah yang lebih serius lagi ke depan agar karya atau ciptaan dari putra-putri Indonesia betul-betul segera dipatenkan, disahkan hak ciptanya.’’

Dengan demikian, kata Presiden, sebagian patut dibawa ke tingkat dunia sebagai bagian dari global atau world heritage untuk bangsa kita.

Kepada para perajin, Presiden menegaskan agar tidak lupa mencantumkan nama daerah dan nama Indonesia dalam karya-karya mereka. ‘’Kalau ada batik, misalkan, entah dari mana tulis Yogyakarta-Indonesia. Songket misalkan, Palembang-Indonesia, Bukittinggi-Indonesia. Kemudian masukkan nama daerahnya dan Indonesianya. Biasakan seperti itu.’’

‘’Demikian juga yang lain-lain. Seperti Poco-poco jelas itu tari-tarian kita, bagaimana mungkin muncul di negara lain. Tapi kita harus peduli, kita harus rajin mencantumkam semua itu menjadi karya kita. Jadi kita sendiri sudah harus makin peduli, begitu tatanan dunia sekarang ini,’’ kata Presiden mengingatkan.

Presiden SBY sudah meminta, misalnya, Menteri Hukum dan HAM, agar birokrasinya dipercepat lagi. Demikian juga kementerian yang lain. Para gubernur saya minta juga lebih aktif.

’’Fasilitasi, dorong, dan bantu agar karya seniman kita, budayawan kita, baik yang masih ada maupun yang sudah tiada tapi menjadi bagian jejak sejarah, peradaban serta budaya kita, harus segera kita tetapkan, sahkan hak ciptanya dan menjadi kekayaan dari negara kita,’’ ujar Presiden menegaskan.

Nanang R. Parlindungan

Sumber : Nusantara Edisi 5 / September 2009

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: