Skip to content

‘’Pulau Bangka Menangis’’ Menggugah Cinta Alam

2 November 2009

Hal-23a

Sejak zaman Belanda hingga kini, timah menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat Bangka Belitung (Babel). Namun setelah penambangan timah dibebaskan untuk masyarakat, alam Bangka pun menjadi rusak, sehingga mendatangkan ancaman tidak saja bagi masyarakat yang ada di sana sekarang, tetapi juga bagi generasi mendatang.

Di tengah ancaman itu, muncullah sosok H. Yono, mantan penambang di Desa Sadai yang peduli dengan kelestarian alam dengan menanam sengon. Perjuangan dan tantangan yang dihadapi H. Yono –termasuk menghadapi Cik Ali, adik iparnya sendiri yang sejak awal berkeras untuk tetap menambang– lantas diangkat Rudi Harlan dan Nursubah ke dalam film dokumenter berjudul Pulau Bangka Menangis (Tears of Bangka Island).

Setelah menjuarai kategori ‘’Rekomendasi Juri’’ pada Kompetisi Film Dokumenter Eagle Awards 2008 yang diselenggarakan Metro TV, film karya putra-putri Babel itu pun berkesempatan mewakili Indonesia keajang ‘’The Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) Prize Awards” di Ulaanbaatar, Mongolia, pada malam 5 Oktober 2009 lalu.

Hal-23b

Gubernur Kepulauan Babel, Eko Maulana Ali

Di Mongolia, film Pulau Bangka Menangis tampil sebagai finalis dan harus bersaing dengan sejumlah unggulan film dokumenter dari negara-negara lain. Di antaranya Hawkeye TV Youth (Filipina), The Hand Print: Omid (Afghanistan), dan Can You…? (tuan rumah Mongolia, yang selanjutnya tampil sebagai juara).

Meski tidak berhasil tampil sebagai yang terbaik di Mongolia, kehadiran Pulau Bangka Menangis sangat layak diapresiasi. ‘’Film Pulau Bangka Menangis ini merupakan salah satu wujud kepedulian anak muda Babel terhadap alam, lingkungan, dan masyarakat di tengah terjadinya kerusakan alam dan lingkungan, serta korban jiwa akibat dari penambangan liar tanpa mengikuti ajakan pemerintah agar pemanfaatan sumber daya alam timah hendaknya dieksploitasi dengan bijak,’’ ujar Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Eko Maulana Ali saat malam pisah sambut Anggota DPRD Kepulauan Babel di Gedung Mahligai Serumpun Sebalai, Air Itam, Pangkalpinang, 24 September 2009.

Kerusakan alam akibat penambangan itu, kata Gubernur Eko menambahkan, jelas sangat memprihatinkan. Padahal baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintahan Kabupaten telah membuat aturan-aturan yang sangat jelas dengan menerapkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan.

‘’Film Pulau Bangka Menangis merupakan salah satu cara menggugah masyarakat untuk peduli terhadap alam dan lingkungan yang, salah satu caranya, adalah dengan menanam pohon bernilai ekonomi di bekas lahan penambangan timah seperti yang dilakukan oleh H. Yono dengan cara menanam sengon itu,’’ ucap Eko.

===================================================================================================

RUDI HARLAN Lelaki berusia 24 tahun, anak pertama dari empat bersaudara, serta putra daerah Pulau Bangka Kota Pangkalpinang ini masih tercatat sebagai mahasiswa pada Universitas Terbuka (UT) Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi D-II Pendidikan Olahraga. Ketika memasuki Semester III pada 2006, dia diterima mengajar di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Depati Amir sebagai guru olahraga dan bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pada tahun ajaran 2007/2008 dia berhasil membawa murid kelas VI SD Depati Amir meraih peringkat satu nilai rata-rata kelas pada UAS BN pertama di Kota Pangkalpinang untuk bidang studi IPA. Saat ini tetap meniti karir sebagai sutradara film dokumenter.

 

NURSUBAH Lahir di Pangkalpinang, Bangka Belitong, 19 November 1984. Dia menamatkan pendidikan terakhirnya di jenjang S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Hobi menulis dan sejumlah karyanya yang sudah dipublikasikan, di antaranya, novel Bukan Akhwat Biasa (Penerbit Puspa Swara, September 2006), dan cerpen berjudul Mei yang menjadi Juara 1 LMCR Nasional Lip Ice-Selsun Golden Award oleh PT Rohto dan Garda Budaya Indonesia 2006. Cerpen-cerpennya memenangkan berbagai perlombaan di tingkat universitas yaitu: Kado Istimewa buat Pencinta Sejati (Juara 2 LMC Garda Budaya Indonesia-UNJ), Gadis Pulau Semujur (Juara 1 LMC BEMJ BSI UNJ), dan Kidung Sunyi Sebuah hati (Juara 1 LMCI LDK UNJ).Cerpen berjudul Gadis Terindak terbit dalam Antologi Cerpen Didaktika UNJ 2007. Cerpen Permintaan Murti menjadi Juara 2 dalam Sayembara Cerpen Nasional yang diselenggarakan oleh Ma-jalah Femina pada tahun 2007. Sekarang berprofesi se bagai pegawai negeri sipil (PNS) dan mengajar di SMK N 4.

Priscilia Suntoto

Sumber : Inspirasi/ Tabloid Forsas Edisi Khusus (6)/ Oktober-November – 2009

Iklan
One Comment leave one →
  1. Rachmat Zamzami permalink
    9 Februari 2010 03:12

    Pulau bangka menangis beanar-benar meraung dan berteriak, saya bangga atas film ini, saya sebagai putra bangka-belitung ingin melakukan “Perlawanan” atas “Ketidak adilan” dan kesemena-menaan. Bapak Eko Maulana Ali jangan hanya berbicara yang baik-baik saja, anda juga ikut berperan saat melegalkan pertambangan rakyat merajalela semasa menjadi Bupati Bangka mana tanggung jawab anda Bapak Eko Maulana Ali?????? Kami menggugat!!!!! film ini membuktikan bahwa hanya segelintir anak muda Babel yang peduli akan pulaunya, yang lainnya mana? termasuk saya sendiri. Sudah saatnya kita melakukan perlawana……………………perlawana…….perlawanan………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: