Skip to content

Tertantang Target MDGs

3 November 2009

SEMBILAN TAHUN MEMANG CUKUP LAMA. NAMUN UNTUK SEBUAH PROYEK RAKSASA BERSKALA GLOBAL DENGAN TARGET YANG BESAR PULA, SEMBILAN TAHUN JELAS TERASA SINGKAT. WAKTU MENDESAK ITU YANG KINI DIRASAKAN NEGARANEGARA DI DUNIA –TERMASUK INDONESIA– DALAM MENCAPAI TARGET MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGS).

Pemerintah memang harus optimistis atas pertumbuhan ekonominya, yang dinyatakan Menko Perekonomian Hatta Rajasa tahun depan bisa mencapai 8 persen berdasarkan berbagai indikator belakangan ini.

Di sisi lain, pemerintah juga layak optimistis memenuhi target MDGs pada 2015 alias yang menyisakan tempo sembilan tahun tersebut. Namun masih ada beberapa kalangan yang meragukan Indonesia mampu memenuhi target MDGs itu mengingat antara 2009-2015 ini pemerintah juga harus fokus membayar utang, termasuk utang luar negeri. Data pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan menunjukkan, per 31 Agustus 2008 jumlah utang luar negeri dan dalam negeri Indonesia yang jatuh tempo pada 2009-2015 terbilang sangat tinggi (lihat tabel).Hal-6b

Kepada Tabloid FORSAS, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sri Adi ningsih, Ph.D lebih menilainya sebagai tantangan daripada hambatan. Menurut dia, utang luar negeri yang akan jatuh tempo dan kaitannya dengan pencapaian target MDGs tidak menjadi problema penting dan tidak saling kait.

‘’Utang luar negeri yang jatuh tempo itu dapat dijadwal ulang pembayarannya. Utang luar negeri itu bisa direscheduling. Yang perlu ditangani lebih jauh adalah masalah penciptaan lapangan kerja karena negara kita ini masih menghadapi imbas krisis ekonomi dunia. Ini masalah yang tidak ringan setelah krisis moneter pada tahun 1997 lalu,’’ ujar Sri.

Itulah yang menurut Sri menjadi tantangan para menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini, khususnya para menteri di bidang perekonomian. Dia menilai, secara umum para menteri di bidang perekonomian KIB II baik dan bisa bekerja. Namun, sekali lagi Sri mengatakan bahwa semua itu merupakan tantangan, bukan hambatan.

Seperti dikatakan Sri, sebelumnya pemerintah juga bersikap akan melakukan renegosiasi utang agar tidak mengganggu pencapaian target MDGs. ‘’Kalau kita bisa buktikan MDGs tidak tercapai di 2015, sebagian utang bisa dikonversi untuk bantu itu. Saya rasa kita akan lakukan dalam satu-dua tahun ini,’’ kata Sekretaris Utama Menneg PPN/Kepala Bappenas Syahrial Loetan, di Jakarta, Kamis (26/9) seperti dilansir KOMPAS.com.

Beberapa negara maju, demikian Syahrial, telah berjanji dalam monetary consensus untuk memberikan bantuan. Dari hasil kesepakatan tersebut, negara-negara maju itu bersedia menyisihkan sekitar 0,7 persen dari produk domestik kotor (GDP)nya untuk membantu negara miskin atau negara yang masih di bawah.

‘’Sejauh ini monetary consensus juga belum di penuhi banyak negara. Baru lima-enam negara yang memenuhi. Sebagian besar ada di Skandinavia atau Belanda,’’ tutur Syahrial, lantas menambahkan bahwa Belanda sudah merealisasikannya hingga 0,7 persen.

Menurut Syahrial, program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar serta perubahan strategi dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran negara. Harus ada prioritas. ‘’Untuk menopang kesehatan, mengurangi tingkat kematian ibu melahirkan, mengurangi ke matian bayi, dan sebagainya membutuhkan anggaran ganda,’’ katanya.

Oleh karena itu, Syahrial mengaku pesimistis pemerintah mampu mencapai seluruh target MDGs, seperti penyiapan air bersih untuk masyarakat dan layanan untuk ibu hamil karena perawat yang tersedia di masyarakat yang kurang mampu masih kurang memadai. Perlu ditekankan lagi bahwa MDGs bermatrakan delapan target yang hendak dicapai dunia internasional pada tahun 2015 sebagai jawaban atas berbagai persoalan pembangunan global memasuki milenium ketiga.

MDGs dijalankan berdasarkan program aksi dan target dalam Millennium Declaration yang diterima 189 negara dan ditandatangani 147 kepala negara dan pemerintahan, termasuk Indonesia, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Milenium yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Millennium Summit) pada September 2000 silam.

Hal-6aDelapan target MDGs adalah: (1) Menghapuskan kemiskinan parah dan kelaparan; (2) Mengupayakan minimal terwujudnya pendidikan dasar bagi penduduk global; (3) Memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; (4) Mengurangi angka kematian anak-anak; (5) Meningkatkan kesehatan ibu melahirkan; (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; (7) Menjamin ketahanan lingkungan; dan (8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Untuk bisa mencapai semua target itu pada 2015 atau sesudahnya, ujar Sekretaris Jenderal PBB Ban Kimoon di website resmi Program PBB untuk Pembangunan (UNDP), dibutuhkan kekompakan dan kerja keras bersama oleh penduduk global. Perlu pula diingat bahwa semuanya tidak bisa dicapai dalam sekejap, melainkan kerja jangka panjang yang benar-benar terprogram secara matang dan terperinci.

Selain itu, target-target dalam MDGs bisa di capai hanya bila tercipta kerja sama global antarnegara yang sadar terhadap peran dan fungsi masing-masing. Misalnya, untuk bisa bangkit dan bergerak menuju kondisi yang lebih baik, negara-negara miskin dan berkembang harus berjanji lebih baik dalam menjalankan roda pemerintahannya, memerangi korupsi, dan lebih memerhatikan rakyatnya melalui investasi di bidang kesehatan (health care) dan pendidikan.

Sedangkan peran negara-negara kaya adalah membantu yang miskin dan berkembang mencapai target tersebut dengan, misalnya, pemberian bantuan atau donor, keringanan hingga pemutihan utang, serta perlakuan yang fair dalam bertransaksi dagang dengan negara miskin dan berkembang.

Bagi Indonesia, pada satu sisi MDGs jelas memberikan keuntungan besar untuk memacu berbagai program peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengurangan angka kemiskinan. Namun, seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia jelas juga tidak luput dari beragam tantangan dalam mengimplementasikan berbagai program (road map) untuk mencapai target MDGs.

Misalnya, untuk tiga target dalam sektor kesehatan (mengurangi angka kematian anak-anak; kesehatan ibu melahirkan; serta perang terhadap HIV/AIDS, malaria, dan berbagai penyakit menular lainnya) kondisinya memang belum menggembirakan, namun bukan berarti tidak ada kemajuan.

Untuk target mengurangi kematian anak-anak, UNDP menilai Indonesia cukup berhasil, meski masih perlu peningkatan. Namun, untuk tingkat kematian perempuan (ibu) menjelang, saat, dan sesudah proses persalinan, data UNDP mencatat bahwa kasus ini di Indonesia masih terbilang tinggi, yakni 307 per 100.000 kelahiran. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

Pada prinsipnya, UNDP memang tidak ‘’menghakimi’’ Indonesia mengingat tingginya angka kematian juga terjadi di pelbagai negara miskin dan berkembang lain di dunia. Pada tahun 2005, lebih dari 500.000 perempuan meninggal saat mengandung, saat melahirkan, dan dalam kurun enam pekan usai persalinan.

Total 99 persen kasus ini terjadi di negara-negara berkembang. Dari persentase itu, kasus di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan memiliki porsi hingga 86 persen. Yang terparah memang terjadi di Sub-Sahara Afrika di mana resiko kematian perempuan (ibu) berkaitan dengan komplikasi akibat kehamilan yang sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan memiliki perbandingan 1 kasus per 22 kehamilan. Padahal di negara-negara maju perbandingannya adalah 1 per 7.300. Sedangkan untuk perang terhadap HIV/ AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, UNDP juga menaruh rasa cemas yang tinggi terhadap Indonesia, meski kasus terbesar masih terjadi di wilayah Sub-Sahara Afrika.

Papua dan beberapa wilayah lain berkontribusi pada cepatnya peningkatan infeksi HIV dan dicemaskan pula akan menyumbang peningkatan korban meninggal akibat AIDS. Data UNDP menyebutkan, setiap hari hampir 7.500 penduduk dunia terinfeksi HIV dan 5.500 orang meninggal akibat AIDS. Meskipun peningkatan jumlah penduduk terinfeksi HIV masih mencengangkan, UNDP juga tidak menutup mata bahwa berbagai program pencegahan dan perang melawan HIV/AIDS memberikan hasil yang cukup menggembirakan.

Jumlah orang yang baru terinfeksi HIV terus berkurang, yakni 3 juta pada 2001 menjadi 2,7 juta pada 2007. Perluasan pelayanan anti-retroviral treatment juga menyebabkan kematian akibat AIDS menurun dari 2,2 juta pada 2005 menjadi 2,0 juta pada 2007. Dengan demikian, jumlah pengidap HIV/AIDS yang bertahan hidup lebih lamapun bertambah pula, yaitu 29,5 juta pada 2001 menjadi 33 juta pada 2007.

Berkaitan dengan target MDGs dalam pencegahan HIV/AIDS ini, saat membuka The 9th International Congress on AIDS in Asia and The Pacific (ICAAP) di Bali pada Agustus lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, sejumlah langkah telah dilakukan untuk mencegah infeksi HIV itu. Di antaranya adalah melipat tigakan perlengkapan terapi anti-retroviral gratis bagi 18 ribu orang di Indonesia.

Selain itu, hingga kini Indonesia telah memiliki 296 konseling sukarela dan pusat pengujian, 237 rumah sakit, serta komunitas kesehatan yang menyediakan obat gratis bagi pengidap HIV. Juga ada 25 rumah sakit yang menyediakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.

‘’Antara 2006 hingga 2009, anggaran belanja yang dialokasikan untuk AIDS meningkat tujuh kali dari 11 juta dolar Amerika menjadi 73 juta dolar Amerika. Anggaran belanja daerah juga meningkat dari Rp 20 miliar menjadi Rp 74 miliar. Meskipun begitu, mengingat jumlah masyarakat Indonesia dan kompleksnya respons AIDS, pekerjaan kita jauh dari selesai,’’ ujar Presiden SBY.

Sementara itu, pada event yang sama, Ibu Negara Ani Yudhoyono yang juga bertindak sebagai Duta AIDS Indonesia mengatakan, pada 2006 telah dikeluarkan Peraturan Presiden yang memperbarui peran dan mandat Komisi AIDS Nasional.

Peraturan ini menggarisbawahi tiga tantangan besar mengenai respons nasional terhadap wabah HIV/AIDS. Ketiga respons nasional tersebut adalah: Pertama, mengecah infeksi baru HIV; Kedua, memperbaiki kualitas hidup orang-orang yang terinfeksi HIV; dan Ketiga, mengurangi pengaruh wabah itu di masyarakat.

Namun Ibu Negara juga mengakui bahwa pekerjaan perang melawan HIV/AIDS masih jauh dari kata usai. Di wilayah timur Indonesia, keadaannya membahayakan. Wabah tingkat rendah telah memasuki populasi umum dengan lebih dari 95 persen infeksi merupakan hasil transmisi heteroseksual. ‘’Kami telah meningkatkan usaha pencegahan beberapa tahun terakhir. Kami telah memperbaiki keefektifan program kami.

Sekarang program tersebut telah tersebar luas. Kami sangat bangga dengan kemajuan ini. Tapi sayangnya virus HIV bergerak lebih cepat. Contohnya, di saat akses kepada pengobatan anti-retroviral telah bertambah baik beberapa tahun terakhir, hanya 15 ribu orang hidup dengan HIV menerima pengobatan yang mereka perlukan.

Ini kurang dari 10 persen dari 270 ribu orang pengidap HIV positif di Indonesia,’’ kata Ibu Negara Ani Yudhoyono. Demi pencegahan AIDS itu, ujar Ibu Negara menambahkan, seperti negara-negara lain Indonesia juga berkomitmen meraih target Universal Access pada tahun 2010. ‘’Kita juga berkomitmen untuk menjalankan tugas mencapai Millennium Development Goals, khususnya sasaran 6, yaitu menghentikan dan mulai melambatkan penyebaran HIV dan AIDS.

Saya harus mengakui bahwa ini bukan tujuan yang mudah. Untuk menyelesaikan tujuan, kita harus mengembangkan dan menyediakan akses yang lebih luas untuk pencegahan dan pelayanan pengobatan untuk orang yang membutuhkan. Kita harus melakukan ini sekarang, bukan minggu depan, bukan tahun depan, tapi sekarang.’’

Solichin – Nanang R Parlindungan I Jakarta

Iklan
One Comment leave one →
  1. 12 Februari 2010 10:23

    syallom selamat siang …. kami ingin bergabung dalam program MDGS yang berjalan pada 2010 , kalau bisa apa persyaratan nya dan bagaimana untuk mendaftarkan diri.

    rio labertho suabey
    teluk wondama- papua barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: