Skip to content

Potret Kesederhanaan Tak Lekang Waktu

20 Februari 2010

RUMAH MASAKECIL PRESIDENSBY

Jika kaki anda menjejak tanah pacitan, Jawa Timur –apakah untuk urusan dinas atau memang rekreasi– cobalah meluangkan waktu singgah di rumah masa kecil SBY di Kelurahan Ploso, Pacitan. Pintu rumah itu selalu terbuka lebar.

Tak ada yang berubah dari rumah joglo di pojok Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Ploso, Kecamatan Kota Pacitan, Jawa Timur, itu. Semua masih tampak seperti aslinya. Rumah sederhana layaknya rumah penduduk di sekitarnya. Bahkan tidak jarang kini tampilannya sudah jauh kalah, bahkan benar-benar tidak sebanding, dengan bangunan-bangunan yang menancap di Kota Pacitan.

Di rumah joglo sederhana yang bercat kuning gading itu Presiden SBY menghabiskan masa kecilnya. Di rumah berarsitektur kuno yang minimalis inilah sejarah salah seorang putra terbaik bangsa diukir.

Beberapa kali Tabloid FORSAS mengunjungi rumah itu, namun kesan yang muncul tidak berubah. Potret kesederhanaan sebuah rumah kuno dengan luas sekitar 12 x 20 meter yang tetap tampak tertata rapi, bersih, dan terawat dengan baik.

Sekilas pandang dari luar, bahkan sempat muncul kesan rumah kuno itu tidak berpenghuni. Biasa-biasa saja. Namun begitu mendekat dan melangkah masuk, pemandangan yang indah telah menanti untuk menyambut siapa pun yang mengunjunginya, lalu dibuai dalam kesan.

Kunjungan pertama tabloid ini berlangsung pada pertengahan September 2009 lalu. Setelah mengisi buku tamu dengan menuliskan identitas: nama, alamat, dan komentar, Ibu Watini pun menyambut ramah. ‘’Saya bude-nya SBY,’’ ucap perempuan yang masih tampak bersemangat itu di usianya yang sudah 85 tahun.

Tidak banyak yang kami lakukan pada kunjungan pertama itu. Selain saksama mendengarkan penuturan Ibu Watini tentang masa-masa kecil orang nomor satu di republik ini, kami juga berkesempatan melihat langsung kamar tidur SBY ketika masih kecil. Sebuah kamar sederhana laiknya kamar rumah-rumah di desa dan berukuran hanya 1,5 x 2,5 meter.

Namun yang kami ingat betul dari kunjungan pertama yang cukup singkat itu adalah galeri foto bertuliskan ‘’Presiden Juga Manusia Biasa’’. Juga foto-foto SBY ketika masih remaja, bersama keluarga, hingga pada pelbagai kegiatan kepresidenan di dalan dan luar negeri. Semua tertata rapi.

Andi, petugas di rumah masa kecil SBY itu, menuturkan, Ibu Watini masih bersemangat melayani tamu jika menjelaskan kisah kesederhanaan SBY karena memang itulah yang sejatinya pernah terjadi. ‘’Walaupun sudah uzur, Ibu Watini masih penuh semangat,’’ tuturnya.

Kunjungan kedua berlangsung menjelang pertengahan Desember 2009. Pada kesempatan kedua ini, kami makin leluasa mengeksplorasi foto-foto di dinding kayu rumah itu dan lainnya.

Bisa dikatakan, di dinding-dinding itu perjalanan hidup SBY tergambar. Ada masa-masa remajanya hingga foto pernikahan SBY dengan Kristiani Herrawati, yang dilahirkan Yogyakarta pada 6 Juli 1952 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan suami istri Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Alm) dan Hj. Sunarti Sri Hadiyah tersebut.

Foto pernikahan itu ditempatkan di sebalah kanan pintu masuk ruang keluarga. Juga ada foto ayah dan ibu SBY –R. Soekotjo (Alm) dan Siti Habibah– pada sisi kanan dan kiri pintu masuk ruang utama. Bukti bakti dan penghormatan dari sang anak.

Foto-foto lain dalam berbagai kegiatan terpajang di dinding kayu. Terdapat pula foto lulusan terbaik AKABRI Darat tahun 1973 ini ketika jam session bersama personel grup band-nya semasa remaja. Di foto itu terlihat juga Joko Darmanto, Soetopo, Soejito, serta teman-teman lainnya bermain musik semasa remaja. Di grup itu SBY adalah pencabik bass guitar.

Selebihnya adalah kesan keaslian dari rumah joglo yang kini sudah serasa menjadi galeri pribadi itu. Tak ada sentuhan modern di dalamnya.

Di ruang tengah, seperangkat meja dan kursi usang masih tidak beranjak dari tempatnya. Demikian juga plafon dari anyaman bambu yang menggantung di langit-langit rumah. Di ruang depan sebelah kiri terdapat kamar sempit yang tidak lain adalah kamar tidur masa kecil SBY seperti sempat kami lihat pada kunjungan pertama.

Pemandangan di kamar sempit itu masih tidak berubah. Di dalamnya hanya terdapat dipan (ranjang). Di kamar sempit itulah SBY kecil menghabiskan waktu untuk belajar dan beristirahat. Meski kini tidak lagi ditempati, namun dipan itu tetap setia di tempatnya.

Masih banyak kenangan lain tentang SBY yang terpatri di rumah tersebut, termasuk tingkah khas anak muda zaman itu. Joko Darmanto masih ingat betul, suatu saat usai belajar atau bermain musik di malam hari, karena lapar dan tak punya uang, dia dan SBY mengambil nasi tiwul tanpa sepengetahuan Ibu Watini.

‘’Iki mesti gaweane Joko (Ini pasti perbuatan Joko),’’ ucap Joko Darmanto, lalu tersenyum, menirukan perkataan Ibu Watini.

Nasi tiwul adalah nasi yang terbuat dari gaplek. Gaplek dibuat dari singkong yang dikeringkan, lalu ditumbuk menjadi tepung (glepung). Dari tepung itu dibuatlah nasi tiwul, nasi khas yang menjadi makanan favorit di Pacitan, terlebih bila dikombinasikan dengan lauk jatil (ikan laut yang digoreng dengan tepung singkong). Apalagi bila disantap bareng sambal dan sayur kalaan (sayur ikan hiu pedas).

‘’Dik Sus (panggilan akrab SBY kecil) orangnya nriman (menerima apa adanya), termasuk tiwul itu,’’ kata Endang Widyowati, sepupu SBY, mengenang.

Kesahajaan yang tergambar dari rumah ini rupanya terpancar pula dari sosok SBY dalam rentang waktu cukup lama, mulai dari Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga sekarang menjadi Presiden RI untuk periode lima tahun kedua.

Sebagai Presiden, tentu merehab rumah masa kecil itu tidak sulit dilakukannya. Beberapa pihak juga sudah mencoba menawarkan merenovasi rumah itu. Salah satunya adalah (kala itu) Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, yang kini menjabat Menteri Perhubungan, saat berkunjung ke Pacitan.

Freddy mengusulkan agar rumah masa kecil SBY itu direnovasi untuk dijadikan aset wisata. Pun demikian dengan beberapa pihak swasta maupun Pemkab Pacitan. Namun semuanya ditolak oleh SBY.

‘’Presiden SBY menginginkan, jika rumah itu direhab atau direnovasi, biarlah keluarga yang melakukannya,’’ kata Soejono, kakak ipar SBY.

Dika AWinarno-In Winarno-Samsul I Pacitan

Sumber : Ragam Tabloid Forsas / Edisi 8 – Desember 2009

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: